Bulanku – Cerpen Anak Bangsa

By Yustian M.N

 

Aku duduk di atas atap rumah. Memandangi purnama yang kian memerah. Awan-awan tertiup angin seolah berenang di lautan angkasa. Sambil lalu kupetik dawai gitar tuaku. Kualunkan melodi-melodi sendu. Suasana malam semakin menyelimuti hatiku. Anganku terbawa melayang-layang. Malam ini sungguh keramat bagiku. Karena di hari yang sama, di malam yang sama, setahun yang lalu aku masih bersamanya. Bercengkrama ria di tempat ini. Ditatap bulan, diiringi lantunan senar gitarku. Persis seperti saat ini. Namun sekarang aku sendiri.

 

Kubuka buku harianku. Kulihat fotonya tersenyum begitu manis. Di belakangnya masih tertulis  sebuah puisi singkat yang kutuliskan setahun lalu, sambil kupandanginya yang tersipu saat itu.

 

Malam ini bulan memang menakjubkan

Tak kupungkiri dia menerangi malam

Tak kuingkari dialah dewi malam

Tapi aku bukan malam

Hanya satu cahaya yang dapat terangiku

Hanya satu pesona yang menjadi dewiku

Hanya dirimu….


Aku tertegun setiap mebacanya. Membuatku teringat saat-saat bersamanya. Ingin kukenang pertemuan itu. Setidaknya untuk malam ini saja.

 

Tak ketemukan tempat yang lebih tenang selain disini saat ini. Aku selalu senang bercerita pada bulan. Dia seolah selalu memperhatikanku, memandangiku, dan mendengarkan keluh kesah dan kangenku pada Arda…

 

Di atas permukaan atap rumahku yang datar, aku berbaring.Terasa hangat beton masih menyimpan sedikit panas matahari meresap di pori-pori kulit badanku. Seolah memijit-mijit punggungku, uuh terasa enaknya! Dengan tubuh rebah, aku lebih leluasa memandang langit, awan-awan dan tentu saja bulan. Bulan begitu kokoh bertahta di angkasa. Memandangi seisi bumi sampai pagi datang. Seperti memerintah awan-awan untuk terus menari ditengah cahaya terangnya. Seandainya, aku jadi dia, aku pasti dapat melihat seisi dunia, menguasai malam, dan melihat Arda tentunya. Anganku begitu jauh.

 

“Hai bulan, kamu sombong sekali. Mentang-mentang jadi primadona, kau tak hiraukanku. “Hey, aku ingin bercerita nih!” sapaku pada bulan yang hanya diam dengan kemegahannya.”Hey,dengar nggak? Seruku sedikit meninggi. Ah, percuma sajalah toh dia hanya bulan. Hanya bisa diam saja. Aku hanya memandanginya, terus memandanginya. Berharap seseorang nun jauh di sana juga melakukan hal yang sama. Setidaknya tatapan ini akan bertemu dengan perantara bulan. Aku hanya diam saja, suasana hening, dan aku sedikit mulai nggliyer, mataku membawaku ke pintu tidur tapi aku segera tersentak oleh hembusan angin malam yang dingin…

 

“Kamu kangen ya sama dia?” kudengar suara. Suara halus seorang perempuan, yang sepertinya aku kenal. Aku semakin terperanjat. “Hah, siapa itu?” aku tegang sambil menolah-nolehkan pandangan mengitari sekeliling atas rumahku.”Hey, aku di sini!” suara itu mencul lagi. Aku semakin bingung dan ketakutan. Aku segera menuju tangga berniat turun dan masuk rumah. Tatapi suara itu terus mengejarku. “Hey, mau ke mana? Katanya mau cerita?”. “Hah, bercerita?” gumamku. Jangan-jangan, “ Aku di atas” suara itu terus menahanku yang hampir beranjak ke dalam rumah. Aku melihat ke atas. Kujumpai bulan yang masih sama, tapi kali ini tak ada awan-awan dan bintang lagi. Langit pun begitu gelap, hanya cahayanya saja yang terang.

 

“ Apakah itu kamu?” kataku sambil memandang ke arah bulan. “Iya ini aku” suara itu merayap masuk menggetarkan gendang telingaku. Kukucek-kucek mataku tak percaya akan apa yang terjadi. “Ya Tuhan, benarkah ini terjadi?” kutampar pipiku berkali-kali, terasa sakit. Berarti aku tidak mimpi, ini nyata. “Sudah, jangan takut. Duduk saja dan berceritalah padaku sebelum matahari menenggelamkanku!” dia berucap lembut padaku. Aah, entahlah apa yang terjadi. Aku masih bingung. Tapi biarlah kulalui saja,kunikmati saja,kuikuti saja.

 

“Bulan, benarkah itu kamu?” aku masih tak percaya. “Uuh orang ini, iya ini aku, Bulan!” sebuah suara gemas terdengar. “Nih lihat” seketika itu bulan yang tadi hanya sebuah bulatan terang, tiba-tiba tersenyum padaku, kusaksikan ada sebuah bibir, dua mata dan hidung, persis seperti wajah seorang dewi. “Oh, Ya Tuhan, apa lagi ini!” aku semakin tak percaya. Aku terpaku, diam tertegun begitu lama…”Sudah cukup memandangiku?”suara bulan membuatku terjaga dari keterpanaanku.”Eh…”ucapku lirih. “Hey sobat, aku tahu kau sedang gelisah. Kau memikirkan mantan kekasihmu itu. Kalian sudah satu tahun berpisah, tapi kau masih memikirkannya. Aku pun juga tahu bagaimana kalian terpisah. Semua gara-gara salah paham”. Dia berkata panjang lebar tentang diriku.”S..s..sebentar, bagaimana kamu tahu?”sahutku sedikit gagap. “Dasar bodoh, kamu kan selalu bercerita padaku tiap aku muncul di kala gelap” seru sang bulan. “Eee, benarkah? Jadi,kamu?”ucapku  terbata. “Iya, aku selalu mendengar ceritamu. Jangan kau pikir aku yang diam ini tak menghiraukanmu!” kata sang bulan.

 

Kebekuan otakku sedikit demi sedikit mulai mencair. Aku pun mulai menganggap lawan bicaraku ini benar-benar ada, benar-benar nyata. Tak kusangka kalau selama ini ada yang mendengarkanku. Tentang rinduku, marahku, sedihku, dan kekonyolan hari-hariku. Dan dia adalah bulan. Aku hanya yakin ini kehendak Yang Maha Kuasa. Ini adalah satu-satunya keajaiban dalam hidupku.Ya, berbicara dengan bulan.

 

“Hai bulan, bukankah dari atas sana kamu bisa melihat isi dunia? bolehkah aku tahu dimana dia?” tanyaku. “Dia siapa?Mantan kekasihmu itu? Sudahlah jangan kau pikirkan dia lagi!” ucap sang bulan. “ Kenapa?Apa dia sudah tak memikirkanku?Apa dia sudah bersama dengan yang lain?” seruku bertanya-tanya. “ Kenapa sih kamu masih memikirkannya?” ucap sang bulan bukan menjawab pertanyaanku tetapi malah balik bertanya. “Aku masih menunggunya, masih begitu sayang, dan sangat mencintainya. Dalam hidupku di dunia, hanya dia yang bisa menyentuh hatiku. Sampai sekarang aku pun tak tahu kenapa masih mengharapkannya” ulasku. “Bukankah dia pernah menyakitimu.Dulu saat kau menunggunya, dia malah bersama dengan yang lain. Kulihat kau sangat marah waktu itu. Kau berteriak-teriak di depanku, kau banting Helm hitammu, dan kau menangis” sahut bulan panjang lebar mengingatkanku pada masa kehancuranku. “Ah, kenapa kau ingatkan aku akan hal itu?”seruku. “Itu sudah berlalu, dan aku mengerti rasa sayangku sudah mengikis semuanya” tambahku sebelum sang bulan membalas dengan kata-kata.

 

Malam semakin larut. Bahkan mungkin ini sudah melewati batas malam. Aku dan bulan masih bercengkrama. Bulan di atas udara dan aku di atas atap rumah sambil sesekali berbaring dan sesekali duduk. Dan topik pembicaraan kami masih tetap, tentang Arda. “Eh, jadi kamu benar-benar ingin tahu tentang dia?” Tanya bulan menegaskan. “Yup” jawabku singkat. “Kamu sangat merindukannya?” Tanya bulan lagi. “Sangat rindu” jawabku sambil menganggukkan kepala. “ Kau sangat mencintainya?” Tanya bulan sekali lagi. “ mencintainya melebihi diriku sendiri” jawabku terus mengikuti arah pembicaraan.

 

“Baiklah…” ucap bulan sepatah seperti akan ada kalimat yang menyusul. “Dia juga sangat merindukanmu, dia juga sangat mencintaimu” kalimat itu akhirnya muncul. “Hah, benarkah?!”berdebur kencang hatiku mendengarnya, kegembiraan tiada tara memancar dari wajahku. “Dia masih menyimpan rangkaian puisi yang kau tuliskan untuknya. Dia juga masih selalu memeluki boneka katty yang pernah kau berikan padanya saat dia sedang marah waktu itu”ungkap bulan begitu datar. “Lalu?” seruku. “Setelah beberapa bulan kalian terpisah, akhirnya dia mengerti kalau perpisahan itu terjadi hanya karena salah paham. Dia pun tak punya daya untuk melupakanmu” cerita sang bulan

 

“Kenapa dia tidak mencariku?” ujarku. “Dia mencarimu!” Sahut bulan. “Lalu kenapa dia tak datang?”aku balik menyahut. “Dia……” ucap bulan lirih sambil menundukkan wajahnya. “Dia kenapa? Seruku. Kulihat bulan hanya diam tertunduk sepi. Hatiku semakin didera gelisah ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. “Bulan, dia kenapa? Kenapa dia tak datang padaku? Tolonglah bulan beri tahu aku!” pintaku sambil bangkit dari dudukku. Sejenak suasana hening. “Dia… telah pergi” ucap bulan lirih. “Maksudmu?” aku semakin resah. “Suatu malam keinginannya untuk bertemu denganmu begitu kuat, setelah dia keluar dari rumahnya, dia berlari begitu kencang. Dalam pikirannya hanya ingin bertemu denganmu saat itu. Tapi… seketika sebuah mobil Jeep memporak-porandakan segenap harapannya. Dia tertabrak ketika menyebrang jalan. Nyawanya masih terselamatkan beberapa saat. Di perjalanan menuju Rumah Sakit dia tak henti memanggilmu. Namun lukanya sangat parah. Akhirnya dia pun pergi untuk selama-lamanya”

Dadaku berdegub sangat kencang, kepalaku seakan-akan mau meledak, otot-tot penyangga tubuhku tak berdaya menopangku untuk berdiri, aku pun lemas dan terduduk lesu. Air mata menderai tak tertahankan. Sungguh aku tak percaya akan apa yang kudengar baru saja. Dan aku tak bisa lagi berkata apa-apa. Hanya sedih dan air mata yang membalutku.

 

“Sobat, aku tahu hatimu sangat perih” kata bulan begitu sendu. “Ketahuilah, dia sungguh tak ingin kamu bersedih seperti ini. Dan dia sedang menatapmu saat ini” lanjut sang bulan. Aku seketika mendongkkan kepala ke arah bulan yang  memaku tatapannya ke arahku. “Dia..??.” kataku lirih sambil menghapus airmata yang membasahi pipiku. Tak ada seorang makhluk pun malam ini yang memandangiku selain bulan. “Bulan…. Kamu….A, A, Arda?” ucapku tersenggukan. “Kaukah itu?” lanjutku sedikit bersemangat. Bulan memejamkan matanya sambil mengangguk “Iya, Aryo ini aku”

 

Perasaanku begitu luar biasa. Meluap-luap mebanjiri malam ini dengan kesyahduan roman cinta. Ingin sekali ku terbang ke atas sana dan memeluknya. Tapi apa daya. Aku hanya manusia biasa yang mendapat suatu kejaiban di suatu malam. Matahari pun beranjak datang menyisihkan malam, dan juga bulanku. Rantaian kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku sebelum pagi datang adalah

 

Malam ini aku memang menakjubkan

Jangan kau pungkiri aku menerangi malam

Jangan kau ingkari akulah dewi malam

Meski kau bukan malam

Aku kan selalu menerangimu

Hanya akan menjadi dewimu

Hanya dirimu….


Sejak saat itu, aku tak pernah melewatkan satu kali pun saat bulan muncul di permukaan malam. Karena hanya itu caraku melepaskan rindu pada Arda.

Walaupun tak ada lagi percakapan itu, tak ada lagi bulan yang menyapaku, tak ada lagi bulan yang berwajah manis, dan tak ada lagi Arda yang menjelma menjadi bulan. Aku selalu merasa dia mendengarku, menatapku, merasakanku ketika aku bercengkrama dengan bulan…

Kata Kunci Artikel:

< Previous Article

1 Comment on this article. Feel free to join this conversation.

  1. adelia 31/01/2012 at 15:00 -

    sediiihnyaaaa :’)

Leave A Response