Sulitnya Menentukan Pilihan

Dari sudut pandang manakah aku dipandang? mereka bilang aku ini beruntung, hidup sudah mapan, de el el..

Mungkin ini pertama kali aku nulis keluhan pribadi di blog ini. Kalo ada yang protes silahkan, tapi ini kaan blog saya, week :p Jadi gak boleh protes!! Mau tulisannya berantakan, pake bahasa gado-gado, atau gak pake EYD yg disempurnakan, kali ini… terserah saya ajah yaa 🙂

Semua anak muda yang masih jadi mahasiswa pasti ingin lulus jadi sarjana, trus cari kerja, trus dapet gaji, trus nikah, punya anak, trus rumah, mobil, daan seterusnya. ITULAH POLA HIDUP KAPITAL yang sudah membudaya di Indonesia. Ngaku nggak?

Aku pun sama, mengalami dan menjalani pola hidup semacam itu. Entah ini karena keberuntungan atau memang dijerumuskan untuk hidup seperti ini. Yang jelas saat ini hanya sesak dan keterpenjaraan yang aku alami.

Memiliki segalanya bukanlah kebahagiaan, tapi menjadi diri sendirilah kebebasan sejati. Tapi aku tak mampu untuk melakukan itu. Aku masih ingin membahagiakan orang-orang yang aku sayang. Ya, salah satu yang memaksa kita untuk menahan kesenangan kita adalah kebahagiaan orang lain yang kita sayangi.

So, its a sacrifice? Yah bisa dikatakan begitu.. Trus apa yang bikin kamu mau di “sacrifice”in? eits!!! aku nggak di “sacrifice”in kaleee. Jadi begini, kalau kita pingin punya mobil misalnya, kan harus beli, baru bisa pakai tuh mobil. Masak nyolong?! ibaratnya pengorbanan itu uangnya, trus mobilnya itu kebahagiaannya. gituu pren..

Tapi dikala sampai pada suatu titik kamu disuruh milih… Terus berkorban dan ngalah demi itu tadi, atau berubah buat nyenengin diri kamu sendiri. Kalo boleh dibilang, badan udah sampe kurus gitu sampe tinggak tulang, sakit2en lagi. Sekarang waktunya gemukin badan kamu! Ibaratnya pengorbanannya istirahat dulu gitu…

Dan di sisi lain, tak akan pernah bisa aku lepas dari pikiran tentang orang yang kusayangi. Bisakah dia menjalani kehidupan berat yang baru dipijaknya. Sementara energi di diriku sudah lemah terkuras dan perlu subsidi.

Maaf kalau tulisannya ruwet dan njlimet. memang otak lagi ruwet ini!

OK, Simpelnya.. aku kebingungan harus gimana. Kalau aku terus ngikutin kemauan dia, dia nggak akan mandiri, nggak akan pernah belajar buat survive, tapi kalau aku biarin dia nanti nggak kuat, trus nyandarnya ke siapa, kalau jatuh? kalau pingsan? Nggak tahu aaah…

Kata Kunci Artikel:

Next Article >

1 Comment on this article. Feel free to join this conversation.

  1. puji 18/04/2013 at 11:03 -

    Membahagiakan orang lain tidak harus memberikan segala yang dia mau tetapi berikan apa yang benar-benar dibutuhkan. Pun dia tak ingin terus bersandar jika dia menganggapmu berarti. Dengan melakukan segalanya dengan ikhlas mungkin karena ‘nya” atau “Nya” akan membuat dirimu bebas. Memiliki segalanya adalah kebahagiaan dan ujian. Karena Allah menyiapkan yang mungkin jauh lebih baik dari apa yang bisa kita bayangkan.. :), Semangat!!!!

Leave A Response